Oleh: Bengkel Coretan
Demi angin yang menebar rasa hampa,
katakan padaku sepi telah menjadi sia-sia...
Lalu serangkum mimpi menepaki sepenggal kerinduan,
pada sungai dan muara yang tak bertemu...
Begitu jingga kabutnya,
berbaur alunan nestapa menghanyutkan diri...
Demi angin...
Ajari aku menjahit sobekan hati,
di ujung tepi saat luka menggapai tirainya...
Mengalir secercah darah dan air mata,
bergumpal dirajutnya duka bersulam cinta...
Demi angin...
Sampaikan salam gerimisku merinai di celah hati...
ada nasib lenyap di muara tak bertemu,
ada pula cobaan sirna di bukit janji...
Tergantung di lengkung selajur pelangi...
Demi angin...
Mengajakku, bercerita tentang kesunyian...
Perih menikam jantung sanubari,
untai kata dalam pelarian memeluk bayangmu...
Demi angin yang menebar rasa hampa,
katakan padaku sepi telah menjadi sia-sia...
Lalu serangkum mimpi menepaki sepenggal kerinduan,
pada sungai dan muara yang tak bertemu...
Begitu jingga kabutnya,
berbaur alunan nestapa menghanyutkan diri...
Demi angin...
Ajari aku menjahit sobekan hati,
di ujung tepi saat luka menggapai tirainya...
Mengalir secercah darah dan air mata,
bergumpal dirajutnya duka bersulam cinta...
Demi angin...
Sampaikan salam gerimisku merinai di celah hati...
ada nasib lenyap di muara tak bertemu,
ada pula cobaan sirna di bukit janji...
Tergantung di lengkung selajur pelangi...
Demi angin...
Mengajakku, bercerita tentang kesunyian...
Perih menikam jantung sanubari,
untai kata dalam pelarian memeluk bayangmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar